Pendidikan Pembebasan


BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu aliran dalam pendidikan adalah model pendidikan pembebasan yang dicanangkan Paulo Freire. Menurutnya pendidikan adalah praktik pembebasan, karena ia membebaskan pendidik, bukan hanya terdidik saja dari perbudakan ganda berupa kebisuan dan monolog.
Untuk itu, sekolah sebagai lembaga yang berperan membentuk kepribadian anak harus ditempatkan sebagaimana mestinya. Sekolah seharusnya menjadi tempat dimana anak-anak menemukan kegembiraan dan kebahagiaan.
Dan tidak terjadi sebaliknya, di sekolah anak-anak muram, kegelisahan, kehilangan kebahagiaan, dalam menghadapi guru dalam melihat fenomena yang demikian inilah, Nampak pula penindasan, bahkan penindasan dalam hal yang kelihatannya netral dalam pendidikan. Di sana peserta didik sudah diperalat oleh kekuasaan tuannya untuk menggarap apa saja yang di kehendakinya.
Karena itu Paulo Freire membuat reformulasi, bagaimanakah mencari model pendidikan yang dapat membebaskan manusia dari penindasan yang tidak di sadarinya oleh karena itu pendidik seharusnya membuat peserta didik sadar siapa dirinya dan bagaimana hubungan dirinya dengan dunia luar.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Hakikat Pendidikan Pembebesan
Pembebasan berakar dari kata dasar bebas, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa. Dari pengertian diatas, secara sederhana dapat dipahami bahwa “bebas” merupakan situasi atau keadaan yang memungkinkan bergeraknya suatu hal sesuai dengan yang dikehendaki tanpa adanya bayang-bayang pemaksaan dan diktatorisasi dari pihak manapun.
Dalam terminologi Paulo Freire, pembebasan bermuara pada realitas dikotomi peran guru dan peserta didik yang dikonsepsikannya dengan istilah banking of Education.
Perspektif Paul Freire Kebebasan secara umum berarti ketiadaan paksaan. Ada kebebasan fisik yaitu secara fisik bebas bergerak ke mana saja. Kebebasan moral yaitu kebebasan dari paksaan moral, hukum dan kewajiban (termasuk di dalamnya kebebasan berbicara). Kebebasan psikologis yaitu memilih berniat atau tidak, sehingga kebebasan ini sering disebut sebagai kebebasan untuk memilih. Manusia juga mempunyai kebebasan berpikir, berkreasi dan berinovasi. Kalau disimpulkan ada dua kebebasan yang dimiliki manusia yaitu kebebasan vertikal yang arahnya kepada Tuhan dan kebebasan horizontal yang arahnya kepada sesama makhluk.
Sementara pendidikan adalah media kultural untuk membentuk manusia. Kaitan antara pemdidikan dan manusia sangat erat sekali, tidak bisa dipisahkan. Kata Driyarkara, pendidikan adalah humanisasi, yaitu sebagai media dan proses pembimbingan manusia muda menjadi dewasa, menjadi lebih manusiawi.
Jalan yang ditempuh tentu menggunakan massifikasi jalur kultural. Tidak boleh ada model “kapitalisasi pendidikan”. Karena, pendidikan secara murni berupaya membentuk insan akademis yang berwawasan dan berkepribadian kemanusiaan.
Pendidikan secara sederhana ialah proses memanusiakan manusia melalui usaha sadar dan terencana. Sedangkan pembebasan ialah terciptanya suatu situasi, ketika tidak ada ikatan-ikatan, tekanan, dan intervensi yang menghalang-halangi dalam melakukan sesuatu sesuai kehendak diri sendiri.
Jadi, Pendidikan pembebasan merupakan proses memanusiakan manusia melalui sebuah kesadaran untuk melepaskan diri dari bentuk penindasan yang hegemonik dan dominatif, yang keduanya menjadi penghambat bagi tegaknya pilar-pilar pembebasan.

B.  Model-model Pendidikan Pembebesan
1.    Model Dialog (konsientasi)
Paulo Freire sangat menentang pendidikan “gaya bank” yang mencerminkan masyarakat tertindas yang menunjukkan kontradiksi.Pendidikan gaya bank tersebut antara lain:
a.    Guru mengetahui segala sesuatu, peserta didik tidak tahu apa-apa.
b.    Guru berfikir, peserta didik difikirkan.
c.    Guru bercerita, peserta didik mendengarkan.
d.    Guru mengatur, peserta didik diatur.
e.    Guru memilih dan memaksakan pilihannya, peserta didik menyetujui.
f.     Guru berbuat, peserta didik membayangkan dirinya berbuat melaui perbuatan gurunya.
g.    Guru memilih bahan dan isi pelajaran, peserta didik menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
h.    Guru mencampuradukan jabatan dan kewenangan ilmu untuk menghalangi kebebasan peserta didik.
i.     Guru adalah subyek, peserta didik adalah obyek dalam proses belajar mengajar.
j.     Guru mengajar, murid belajar.
Untuk menentang pendidikan model banking tersebut Paulo Freire menawarkan pendidikan model dialog atau Konsientasi (penyadaran) yaitu sebuah model belajar dengan cara memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut.
Menurutnya, pendidik hendaknya membimbing peserta didik (yang punya ilmu yang diketahui oleh gurunya), supaya dia menjadi sadar tentang masalah-masalah kontradiksi dalam dunianya dan mencari sendiri cara-cara memecahkannya. Dengan begitu bukan hanya pendidik saja yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan relitas, tetapi peserta didikpun juga mampu untuk memecahkan realitas sosial yang terjadi didalamnya.
2.    Model Kritik (masifikasi)
Pada model ini peserta didik dibimbing supaya mengetahui struktur sosial, ekonomi, budaya, agama, dan politik dan tidak menerimanya begitu saja, tetapi malah mempersoalkan hal-hal yang tidak adil. Pendidik dan peserta didik mempersoalkan bersama hal-hal yang menyusahkan kehidupan rakyat.
Pendidikan kritis intinya membantu terbentuknya sikap-sikap kritis, mengangkat kesadaran naif masyarakat yang telah menenggelamkannya dalam proses sejarah dan membuatnya mudah termakan irrasionalitas.
Dengan menggunakan konsep pendidikan pembebasan versi Paulo Frierekita akan melihat problema-problema pendidikan islam yang ada pada saat sekarang ini.

C.  Pendidikan Islam Sebagai Praktik Pembebasan
Berdasarkan cermin PauloFreire sebagaimana diuraikan diatas, penulis mencoba menggali kembali hakekat Islam sebagai agama yang diturunkan Allah untuk manusia. Pendidikan pembebasan yang digelin dingkan oleh PauloFreire telah diterapkan oleh Nabi Muhammad dalam strategi gerakan dakwah Islam menuju transformasi sosial. Gerakan dakwah pada masa Nabi dipraktekkan sebagai gerakan pembebasan dari eksploitasi, penindasan, dominasi dan ketidakadilan dalam segala aspeknya. Ali Engineer  menuliskan bahwa Nabi, dalam kerangka dakwah Islam untuk pembebasan umat, tidak langsung menawarkan Islam sebagai sebuah ideologi yang normatif, melainkan sebagai pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia, dengan penyusunan kembali tatanan yang telah ada menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, adil dan egaliter.
Pendidikan Islam sebagai praktek pembebasan mendasarkan pada instrumen akal budi manusia sebagai paradigma pembebasan, dimana pendidkan Islam diartikan sebagai proses penyadaran diri (konsientasi) realitas objektif dan aktual, serta mengakui eksistensi manuasia sebagai individu yang bebas dan memiliki jati diri. Dengan instrumen akal budi pula pendidikan dalam Islam dimaknai sebagai proses rasioalisasi dan intelektualisasi. Ada tiga hal yang ingin dibebaskan dalam pendidikan Islam yakni:
1.    Bebas dari pola pikir dikotomis keilmuan atau bahkan polarisasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Sejarah meenunjukkan bahwa pola dikotomis keilmuan dalam Islam ini muncul sejak abad ke-12 yang diusung oleh al-Ghazali, sebagai akibatnya umat Islam lebih suka mendalami ilmu-ilmu keagamaan dengan supremasi fiqh tanpa diimbangi ilmu lain.
2.    Bebas dari pemasungan kesadaran (internal dan eksternal) yang menyebabkan melemahnya kondisi peserta didik. Hal ini disebabkan adanya budaya kekerasan terhadap peserta didik yang lebih mementingkan punishment (hukuman), daripada reward (hadiah).
3.    Bebas dari praktik-praktik pendidikan yang membelenggu kreatifitas dan kebebasan berfikir peserta didik. Akibat dari pendidikan semacam ini timbul kultur bisu dan memudarnya kritisisme masyarakat yang mengakibatkan menipisnya percaya diri, self-reliance dan self-esteem. Akibat lainya adalah adanya kecenderungan pasif dalam dimensi politik dan budaya.
Oleh karena itu, pendidikan Islam sebagai praktik pembebasan manusia dalam proses pendidikan harus dipahami dalam dua dimensi, yaitu:
1.    Pendidikan harus dipahami dalam posisinya secara metodologis, dimana pelaksanaan pendidikan harus dilaksanakan secara demokratis,terbuka, dan dialogis serta tidak bebas dari moral.
2.    Pendidikan Islam sebagai proses pewarisan nilai-nilai keislaman atau transfer of Islamic Values. Nilai-nilai keislaman yang dimaksud disini adalah tauhid, yaitu tidak ada penghambaan kepada yang selain Allah yang berarti bebas dari belenggu kebendaan dan kerohanian. Dengan kata lain, seseorang yang telah mengikrarkan diri dengan “dua kalimat Syahadat” berarti melepaskan dirinya dari belenggu dan subordinasi apapun.
Tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah. Adapun kebebasan manusia disini dibatasi oleh hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang ditentukan oleh Allah yang sejalan dengan filsafat yang mendasari penciptaan manusia. Manusia yang di idam-idamkan oleh Islam pada umumnya, dan pendidikan Islam pada khususnya adalah manusia yang cerdas, mampu berfikir dan juga mampu menggunakan akalnya dengan baik dan bertanggung jawab.
BAB III
PENUTUP

            Pendidikan pembebasan merupakan proses memanusiakan manusia melalui sebuah kesadaran untuk melepaskan diri dari bentuk penindasan yang hegemonik (kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok dominan) dan dominatif, yang keduanya menjadi penghambat bagi tegaknya pilar-pilar pembebasan.
            Pendidikan islam sebagai praktek pembebasan mendasarkan pada instrumen akal budi manusia sebagai para digma pembebasan, dimana pendidkan islam diartikan sebagai proses penyadaran diri (konsientasi) realitas objektif dan aktual, serta mengakui eksistensi manuasia sebagai individu yang bebas dan memiliki jati diri.
            Manusia tidak bisa diperbudak dan dipasung kebebasannya, sehingga tidak boleh menurut dan terikat pada ikatan yang membelenggu kebebasannya. Pendidikan Islam dapat mewujud menjadi pendidikan pembebasan apabila proses pelaksanaan pendidikan Islam dapat dilaksanakan secara demokratis, dialogis dan terbuka serta berupaya menanamkan nilai-nilai tauhid, sehingga pada akhirnya peserta didik menjadi manusia yang bertaqwa.

DAFTAR PUSTAKA

Engineer,Asghar Ali. 1999. Islam danTeologiPembebasan.Yoyakarta :PustakaPelajar.
Freire, Paulo.  2000. Politik Pendidikan Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khobir, Abdul. 2011.  Filsafat Pendidikan Islam LandasanTeoritis dan Praktis. Pekalongan: STAIN Press Pekalongan.
Langgulung,Hasan. 1980. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam . Bandung :  Al-Maarif.
Umiarso & Zamroni. 2011.  Pendidikan Pembebasan dalam Persepektif Barat & Timur. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media. 

Komentar